Rabu, 01 Juni 2016

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang Masalah

Bangsa Arab sebelum lahirnya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai bangsa yang sudah memiliki kemajuan ekonomi. Letak geografis yang yang cukup strategis membuat Islam yang diturunkan di makkah menjadi cepat disebarluaskan ke berbagai wilayah disamping juga didorong oleh faktor cepatnya laju perluasan wilayah yang dilakukan umat Islam.[1] dan bahkan bangsa Arab telah dapat mendirikan kerajaan diantaranya Saba’, Ma’in dan Qutban serta Himyar yang semuanya berasa di wilayah Yaman.[2]
Di sisi lain, kenyataan bahwa al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan diturunkan dalam konteks geografis Arab, mengimplikasikan sebuah asumsi bahwa suatu pemahaman yang komprehensif terhadap al-Qur’an hanya mungkin dilakukan dengan sekaligus melacak pemaknaan dan pemahaman pribadi, masyarakat dan lingkungan mereka yang menjadi audiens pertama al-Qur’an, yaitu Muhammad dan masyarakat Arab saat itu dengan segala kultur dan tradisinya. Dan untuk memiliki pengertian yang sebenar-benarnya tentang asal mula Islam, maka satu hal yang perlu diketahui adalah bagaimana keadaan Arab sebelum adanya Islam, Muhammad, dan sejarah Islam terdahulu.

B.   Rumusan masalah
1.     Bagaimana sejarah perkembangan arab pra islam?
2.      Bagaimana sistem politik dan kemasyarakatan bangsa arab para islam?
3.      Bagaimana sistem kepercayaan bangsa arab pra islam?
4.      Bagainama sistem kebudayaan arab pra islam?






BAB II
PEMBAHASAN

A.     ARAB SEBELUM ISLAM

Ketika Nabi Muhammad Saw. Lahir (570M), makkah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal diantara kota-kota di negeri arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai, menghubungkan yaman di selatan dan suria di utara.dengan adanya ka’bah ditengah kota, makkah menjadi pusat keagamaan di arab. Ka’bah adalah tempat berziarah. Didalamnya terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama, hubal.  Makkah terlihat makmur dan kuat agama dan bangsa arab ketika itu mencerminkan realitas kesukuan masyarakat yang diarab.
Bila dilihat dari asal usul keturunan penduduk jazirah arab dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu qahthaniyun (keturunan qahthan) dan adnaniyun (keturunan ismail ibn ibrahim). Pada mulanya wilayah utara diduduki golongan adnaniyun,dan wilayah selatan didiami golongan qahthaniyun. Akan tetapi lama kelamaan kedua golongan itu membaur karena perpindahan-perpindahan dari utara keselatan atau sebaliknya.[3]

B.     Sistem Politik Dan kemasyarakatan
Pada masyarakat arab pra Islam sudah banyak ditemukan tata cara pengaturan dalam aktivitas kehidupan sosial yang dapat dibagi pada beberapa sistem-sistem yang ada di masyarakat, salah satunya adalah system politiknya. Pada garis besarnya penduduk jazirah dapat di bagi berdasarkan territorial kepada dua bagian yaitu: Penduduk kota (al-hadharah) yang tinggal di kota perniagaan jazirah Arabia, seperti Mekkah, Madinah. Kota Mekkah merupakan kota penghubung perniagaan Utara dan selatan, para pedagang dengan khalifah-khalifah yang berani membeli barang dagangan dari India dan cina di yaman dan menjualnya ke Syiria di Utara.
 Penduduk pedalaman yang mengembara dari satu tempat ketempat lain. Cara mereka hidup adalah nomaden, berpindah dari suatu daerah ke daerah lain, mereka tidak mempunyai perkampungan yang tetap dan mata pencaharian yang tepat bagi mereka adalah memelihara ternak, domba dan unta.
Sebelum kelahiran islam, ada tiga kekuatan politik besar yang perlu dicatat dalam hubungannya dengan Arab; yaitu kekaisaran Nasrani Byzantin, kekaisaran Persia yang memeluk agama Zoroaster, serta Dinasti Himyar yang berkuasa di Arab bagian selatan.Setidaknya ada dua hal yang bisa dianggap turut mempengaruhi kondisi politik jazirah Arab, yaitu interaksi dunia Arab dengan dua adi kuasa saat itu, yaitu kekaisaran Byzantin dan Persia serta persaingan antara yahudi, beragam sekte dalam agama Nasrani dan para pengikut Zoroaster.
Tradisi kehidupan gurun yang keras serta perang antar suku yang acap kali terjadi ini nantinya banyak berkaitan dalam penyebaran ide-ide Islami dalam al-Qur’an, seperti ”jihad”, ”sabar”, ”persaudaraan” (ukhuwwah), persamaan, dan yang berkaitan dengan semua itu.
Pada masa sebelum islam yamg diajarkan disebar luaskan ke bangsa arab oleh Rasulullah SAW, orang arab sering kali terjali peperangan antar suku diantaranya dikenak dengan perang fujjar karena terjadi beberapa akali antar suku, yang pertama perang antara suku kinanah dan hawazan, kemuadian quraisy dan hawazan serta kinanah dan hawazan lagi. Dan peperangan ini nterjadi 15 tahun sebelum rasul diutus.
Kekaisaran Bizantium dan Kekaisaran Romawi Timur dengan ibu kota Konstantinopel merupakan bekas Imperium Romawi dari masa klasik. Pada permulaan abad ke-7, wilayah imperium ini telah meliputi Asia kecil, Siria, Mesir dan sebagian daeah Itali serta sejumlah kecil wilay         ah di pesisir Afrika Utara juga berada di bawah kekuasaannya.
Saingan berat Bizantium dalam perebutan kekuasaan di Timur Tengan adalah persia. Ketika itu, imperium ini berada di bawah kekuasaan dinasti Sasanid (sasaniyah). Ibu kota persia adalah al-Madana’in, terletak sekitar dua puluh mil di sebalah tenggara kota bagdad yang sekarang. Wilayah kekuasaannya terbentang dari Irak dan Mesopotamia hingga pedalaman timur Iran dewasa ini serta Afganistan.
Menjelang lahirnya Nabi Muhammad SAW, penguasaan Abisinia di Yaman – Abraham, atau lebih populer di rujuk dalam literatur Islam sebagai Abrahah – melakukan invasi ke Makkah, tetapi gagal menaklukkan kota tersebut lantara epidemi cacar yang menimpa bala tentaranya, Ekpedisi ini- merujuk Alquran dala msurat 105 pada prinsipnmya memiliki tujuan yang seacar sepenuhnya bearda didlam kerangkapolitik internasional ketika itu. yaitu upaya Bizantyum untuk menyatukan suku-suku Arab dibawah pengaruhnya guna menantang Persia. sementara para sejarawan muslim menambahkan tujuan lain untuknya. Menurut mereka ekpedisi tersebut- terjadi kira-kira pada 552- dimaksudkan untuk menghancurkan Ka’bah dalam rangka menjadikan gereja megah di San’a, yang dibangun Abrahah, sebagai pusat ziarah pusat keagamaan di Arabia.
Dalam masyarakat arab terdapat organisasi clan (kabilah) sebagai intinya dan anggota dari satu clan merupakan geneologi (pertalian ndarah). Pemerintah dikalangan bangsa arab sebelum islam, menurut para ahli sejarah dimulai oleh golongan arab bai‟idah. Pada periode pertama dikenal ada kerajaan Aad di daerah ahkaf al romel yang terletak antara oman dan Yaman, kaum aad juga pernah mendirikan kerajaan antara Makkah dan Yastrib. Kemudian juga dikenal kerajaan dari kaum Tsamud mendiami daerah hijir dan wadi al-Kurro, antara Hijaz dan Syiria. Kemudian di kenal juga kerajaan dari kaum amaliqah di arab timur, oman Hijaz mereka juga ke Mesir dan Syiria. Pada periode Kedua yaitu pada masa arab aribah atau bani qhathan yang terkenal dengan kerajaan Madiniyah, kerajaan sabaiyah dan kerajaan himyariah.
Bagian dari daerah arab yang sama sekali tidak pernah dijajajh oleh bangsa lain tang ke kota makkah adalah Hijaz. Kota terpenting di daerah ini adalah Mekkah, kota suci tempat ka‟bah. Ka‟bah pada masa itu bukan saja disucikan dan dikunjungi oleh penganut-penganut bangsa asli Makkah. Tetapi juga orang-orang Yahudi yang bermukim disekitarnya.
Untuk mengamankan para penziarah yang datang ke kota Makkah diadakan pemerintahan yang pada mulanya berada ditangan dua suku yang berkuasa yaitu suku jurhum dan ismail sebagai pemegang kekuasaan ka‟bah. Kekuasaan politik kemudian berpindah kesuku khuza‟ah dan akhirnya ke suku quraisy di bawah pimpinan qushai. Suku qurraisy ini kemudian yang memegang dan mengatur politik dan juga urusan urusan yang berkenaan dengan ka‟abah. Ada sepuluh (10) jabatan tinggi yang dibagikan kepada kabilah dari suku quraisy yaitu :

·         Hijabah (penjara kunci ka’bah)
·         Siqayah (penjara air mata Zam zam)
·         Diyat (Kekuasaan hakim sipil dan criminal)
·         Sifarah (kuasa usaha Negara atau duta)
·         Liwa (jabatan ketentaraan)
·         Rifadah (pengurus pajak bagi fakir miskin)
·         Nadwah (jabatan ketua dewan)
·         Khaimman (pengurus balai musyawarah)
·         Khazinah (jabatan administrasi keuangan)
·         Azlim (penjaga panah peramal) untuk mengetahui pendapat para dewa-dewa.


C.    Sistem Kepercayaan arab pra islam  
Bangsa arab pada waktu itu memeluk agama nabi ibrahim as.(agama tauhid), namun mayoritas mereka menyembah berhala. Setiap kapilah, mempunyai berhala tertentu dan sekeliling ka’bah, terdapat kurang lebih 360 berhala, diantaranya ada terbesar ialah berhala Hubal kepunyaan suku Quraisy, terbuat dari batu akik dan batu hitam.
Mereka membuat berhala, sebernarnya tidak bermaksud untuk menyembahnya sebagai tuhan. Mereka berkeyakinan bahwa berhala-berhala itu sekedar berfungsi sebgai pelantara untuk membantu manusia mendekatkan dirinya kepada tuhannya, namun akhirnya mereka sembah juga, sebagai mana dijelaskan dalam firman Allah sebagai berikut :
 “ingatlah, hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkatna). “ kami tidak menyembah mereka melainkan supaya merea mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.“ mereka tetap meyakini bahwa ia menciptakan alam semesta adalah Allah tuhan Yang Maha Esa, bukan beerhala-berhala yang mereka sembah itu. Nmun demikian oleh karena manusia tidak pantas menghadap langsng kepada Allah maka mereka membuat patung atau berhala yang digunakan sebagai perantara dalam menyembah tuhan.
Yang sebagian lagi nyembah berhala dengan keyakinan bahwa patung dan berhala itu kedudukannya sama dengan ka’bah, jadi mereka menganggap patung yang mereka sembah sebagai kiblat saja. Yang disembah tetap Allah ta’ala namununtuk membantu konsentrasi mereka berkiblat kearah berhala.[4]

D.    Kebudayaan bangsa arab pra islam
 Wilayah Timur Tengah menurut Ali Mufrodi meliputi Turki, Iran, Israel, Libanon, Yordania, Syiria, Mesir dan kerajaan-kerajaan yang ada di kawasan Teluk Persia.Turki yang berbudaya Turki dan Iran yang berbudaya Persia tidak dianggap berkebudayaan Arab karena memiliki kebudayaan sendiri-sendiri demikian juga Mesir yang sudah memiliki budaya Firaun, sedangkan yang masuk kawasan kebudayaan Arab terdiri dari Timur Tengah Afrika Utara seperti Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libia. yang menurut Haekal antara budaya dan peradaban tersebut tidak pernah saling mempengaruhi perkembangannya kecuali setelah adanya akulturasi dan asimilasi dengan peradaban Islam.[5]
Orang-orang arab sebelum islam telah mengalami periode-periode kemajuan dengan adanya kerajaan-kerajaan sehingga hasil budaya mereka didapati beberapa bekasnya yang dapat di bagi kepada :
·         Budaya materil yang sangat terkenal adalah: bendungan Ma‟rib di Yaman dari kerajaan saba dan begitu juga bekas-bekas kerajaan tsamud, aad dan kaum amalika.
·         Budaya non material, sangat banyak juga yang terkenal, antaranya, syair-syair bangsa arab yang terkenal dengan cerita-cerita tentang keturunan dan keahlian dalam membuat patung, keahlian mereka dalam bersyair sebenarnya karena mereka dapat mengetahui bangsa yang halus dan menarik dengan bahasa yang indah mereka dapat mewariskan amtsai (pepatah arab) dan pepatah itu merupakan kata-kata orang bijak seperti luqman
Disamping budaya yang di dapat dari bangsa Arab sebelum Islam, mereka terkenal terikat dengan Tahayul dan adat istiadat yang melembaga diturunkan turun temurun. Tahayul dan adat istiadat ini bertumpu kepada kepercayaan watsaniyah. Mereka percaya hantu dan Roh jahat. Mereka juga percaya kepada kahin (tukang tenun, ramal). Mereka juga meyakini kejadian-kejadian alam yang halus. Misalnya, kalau terjadi sesat di jalan, hendaklah dibalikkan baju supaya dapat petunjuk.
Meskipun belum terdapat sistem pendidikan, masyarakat Arabia pada saat itu tidak mengabaikan kemajuan kebudayaan. Mereka sangat terkenal kemahirannya dalam bidang sastra yaitu bahasa dan syair. Bahasa mereka sangat kaya sebanding dengan bahasa Eropa sekarang ini. Keistimewaan bangsa Arabia di bidang bahasa merupakan kontribusi mereka yang cukup penting terhadap perkembangan dan penyebaran agama Islam.









           BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.      makkah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal diantara kota-kota di negeri arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai, menghubungkan yaman di selatan dan suria di utara.dengan adanya ka’bah ditengah kota, makkah menjadi pusat keagamaan di arab. Ka’bah adalah tempat berziarah. Didalamnya terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama, hubal.
2.      Sebelum kelahiran islam, ada tiga kekuatan politik besar yang perlu dicatat dalam hubungannya dengan Arab; yaitu kekaisaran Nasrani Byzantin, kekaisaran Persia yang memeluk agama Zoroaster, serta Dinasti Himyar yang berkuasa di Arab bagian selatan.
3.      Bangsa arab pada saat itu mayoritas memeluk agama ibrahim as(tauhid) namun kebanyakan dari mereka menyembah berhala di sekeliling ka’bah kurang lebih di kelilingi dengan 360 berhala, dan berhala yang paling besar bernama hubal.
4.      budaya yang di dapat dari bangsa Arab sebelum Islam, mereka terkenal terikat dengan Tahayul dan adat istiadat yang melembaga diturunkan turun temurun. Tahayul dan adat istiadat ini bertumpu kepada kepercayaan watsaniyah.










DAFTAR PUSTAKA

1.       Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2004.
2.      Ali Mufrodi, Islam di kawasan Kebudayaan Arab, Jakrta : Logos 1997.
3.      Dr.badri yatim M.A, sejarah peradaban islam dirasah islamiyah, jakarta:PT RajaGrafindo Persada.
4.      Wicaksana, sejarah agama,(subang,oktober1987)
5.       Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (Jakarta : Dunia Pustaka Jaya, 1997).





[1] Jaih Mubarak, Sejarah Peradaban Islam, Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2004. Hal.13
[2] Ali Mufrodi,islam di kawasan di kebudayaan Ara, jakarta : logos, 1997.Hal.6
[3] Dr.badri yatim M.A, sejarah peradaban islam dirasah islamiyah, (jakarta:PT RajaGrafindo Persada)hal.1
[4] Wicaksana, sejarah agama,(subang,oktober1987)hal.106
[5] Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (Jakarta : Dunia Pustaka Jaya, 1997). Hal.2